KUMPULAN KULTUM DAN CERAMAH TERBAIK LENGKAP

Di artikel kali ini saya akan berbagi kepada anda beberapa contoh
kultum / ceramah yang bisa di jadikan refrensi materi kultum anda. Tapi sebelum ke bahasan utama, sebaiknya anda baca terlebih
dahulu yang berikut ini.
Contoh Pembukaan Kultum
Sebelum kita memulai sebuah kultum
/ ceramah, tentunya kita butuh kaliamat pembukaan. Jika anda sudah terbiasa
berpidato ataupun ceramah tentu hal ini sangatlah mudah. Tapi bagi anda yang
masih pemula atau sama sekali belum pernah ceramah dan belum tau kalimat
pembuka dari sebuah ceramah, disini saya akan membagikannya dan berikut ini
adalah contohnya.
Contoh # 1
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ
الْقِيَامَةِ
Segala puji bagi Allah, kita
memuji-Nya dan meminta pertolongan, pengampunan, dan petunjuk-Nya. Kita
berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal kita.
Barang siapa mendapat dari petunjuk Allah maka tidak akan ada yang menyesatkannya,
dan barang siapa yang sesat maka tidak ada pemberi petunjuknya baginya. Aku
bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan
Rasul-Nya. Ya Allah, semoga doa dan keselamatan tercurah pada Muhammad dan
keluarganya, dan sahabat dan siapa saja yang mendapat petunjuk hingga hari
kiamat.
Contoh # 2
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ،
فَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَحَذَّرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ
اللهُ اَلْوَاحِدُ الْقَهَّاُر، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ اْلأَبْرَارِ. فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْبَعْثِ
وَالنُّشُوْرِ. أَمَّا بَعْدُ؛
Segala puji hanya milik Allah dengan
pujian yang banyak sebagaimana Allah perintahkan, maka berhentilah dari segala
yang Allah larang dan yang Allah peringatkan. Aku bersaksi bahwa tiada Ilah
yang berhak disembah selain Allah Yang Esa dan Perkasa, dan aku bersaksi bahwa
Muhammad adalah hamba dan utusan Allah yang menjadi pemimpin bagi semua
manusia, shalawat dan salam Allah atas beliau, atas keluarga, shahabat dan
orang-orang yang setia mengikuti petunjuknya sampai hari kebangkitan dan hari
kembali."
Kultum Tentang Ramadhan
Hadirin wal hadirot Jamaah Sholat
Tarawih yang berbahagia
Sebuah nikmat yang sangat besar
adalah kita masih diberi kesempatan oleh Allah untuk bernafas di bulan Ramadhan
ini. Sehingga kita bisa melaksanakan aktifitas-aktifitas yang bernilai ibadah,
khususnya puasa.
Hadirin wal hadirot Jamaah Sholat Tarawih yang berbahagia
Umat Islam di seluruh dunia kembali
menyambut datangnya bulan Ramadhan. Kalau kita perhatikan, di bulan ini ada
tiga terminologi agama yang sering muncul dibicarakan baik oleh kalangan ulama,
ustadz, kyai dalam pengajian-pengajian, ata
upun masyarakat kebanyakan. Ketiga
terminologi itu adalah Al Quran, puasa (shaum) dan taqwa.
Mengapa ketiga terminologi itu
sering muncul dalam berbagai kajian Ramadhan? Tidak bisa dipungkiri bahwa
ketiga term ini mempunyai hubungan yang saling mendukung satu sama lain.
Bukankah Al Quran sebagai firman Tuhan jelas diturunkan pada bulan puasa?
Sementara berpuasa diwajibkan karena ada firman Tuhan dalam Al Quran? Adapun
terminologi ketiga “taqwa atau bertaqwa” adalah esensi dan tujuan utama
diwajibkannya kaum beriman untuk berpuasa, yang oleh Allah disebut pada akhir
ayat tentang perintah berpuasa: “agar kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa”.
Hadirin wal hadirot Jamaah Sholat
Tarawih yang berbahagia
Oleh karena itu, dapat kita ketahui
bahwa salah satu hikmah dari puasa Ramadhan adalah dapat mengantarkan umat
menuju taqwa. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqoroh ayat 183:
“Hai orang-orang yang beriman,
diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum
kamu agar kamu bertaqwa,”
Kata taqwa ( التَقْوَى ) berasal
dari Wiqoyah ( الوِقَايَة ) yaitu kalimat yang menunjukkan penolakan terhadap sesuatu.
Al-Wiqoyah berarti apa yang menghalangi sesuatu.
Maka, taqwa seorang hamba kepada
Robbnya berarti menjadikan penghalang antara dia dengan apa yang ditakuti dari
Robbnya berupa kemurkaan, k
\emarahan dan siksaanNya yaitu dengan cara
ment
a’atiNya dan menjauhi maksiat kepadaNya.
Secara bahasa arab, taqwa berasal
dari fi’il ittaqa-yattaqi, yang artinya berhati-hati, waspada,
takut. Bertaqwa dari maksiat maksudnya waspada dan takut terjerumus dalam
maksiat. Secara istilah, definisi taqwa sebagaimana yang diungkapkan oleh Thalq
Bin Habib Al’Anazi:
العَمَلُ
بِطَاعَةِ اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، رَجَاءَ ثَوَابِ اللهِ، وَتَرْكِ
مَعَاصِي اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، مَخَافَةَ عَذَابِ اللهِ
“Taqwa adalah mengamalkan ketaatan kepada Allah dengan cahaya Allah (dalil), mengharap ampunan Allah, meninggalkan maksiat dengan cahaya Allah (dalil), dan takut terhadap adzab Allah”
“Taqwa adalah mengamalkan ketaatan kepada Allah dengan cahaya Allah (dalil), mengharap ampunan Allah, meninggalkan maksiat dengan cahaya Allah (dalil), dan takut terhadap adzab Allah”
Demikianlah sifat orang yang
bertaqwa. Orang yang bertaqwa beribadah, bermuamalah, bergaul, mengerjakan
kebaikan karena ia teringat dalil yang menjanjikan ganjaran dari Allah Ta’ala.
Demikian juga orang bertaqwa senantiasa takut mengerjakan hal yang dilarang
oleh Allah dan Rasul-Nya, karena ia teringat dalil yang mengancam dengan adzab
yang mengerikan. Sehingga orang yang bisa melakukan hal tersebut akan
dimuliakan di sisi Allah.
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian” (QS. Al Hujurat: 13)
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian” (QS. Al Hujurat: 13)
Hadirin wal hadirot Jamaah Sholat
Tarawih yang berbahagia
Dalam ayat 2-4 Surat al-Baqoroh,
Allah menyebutkan tentang cirri-ciri orang yang bertaqwa:
Artinya: “Kitab (Al Quran) ini
tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu)
mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan
sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman
kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang
telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.”
Kalau dikaitkan dengan pengertian
taqwa dari ayat tersebut, maka ciri-ciri orang bertaqwa sebagai essensi
berpuasa menurut al-Quran adalah sebagai berikut:
Pertama, ciri orang bertaqwa adalah orang yang beriman kepada
yang ghaib. Nampaknya Allah memang mendesain puasa sebagai sarana latihan
agar orang-orang yang beriman bertambah kepercayaannya kepada yang ghaib. Dan
pusat keghaiban adalah Allah itu sendiri. Dengan keimanan kepada adanya Dzat
yang ghaib yang Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Memperhatikan segala
gerak-gerik manusia, seseorang secara tidak langsung dilatih untuk selalu
berbuat baik. Ketika berpuasa, setiap orang beriman sedang di latih untuk
menghadirkan yang ghaib “Tuhan” dalam segala ruang dan waktu. Bukankah
seseorang yang sedang berpuasa tatkala menyendiri di ruangan kantor, kamar yang
terkunci atau tempat lain yang tidak dilihat orang bisa saja makan, minum dan berpura-pura
bahwa dia sedang berpuasa ketika dihadapan orang banyak. Dengan adanya
kesadaran kehadiran yang ghaib atau Allah dalam diri orang yang berpuasa,
kecenderungan untuk berbuat curang atau berbohong akan terhindarkan, dan
semangat untuk selalu berbuat yang terbaik akan tumbuh karena ada kontrol
sosial yang melekat dalam dirinya.
Kedua, orang yang bertaqwa adalah orang yang selalu mendirikan
shalat. Karakter taqwa ini pun dalam bulan puasa sedang digembleng oleh
Allah. Di bulan puasa umat Islam bukan hanya dilatih untuk menjalankan shalat
yang sipatnya wajib, bahkan shalat yang sunnah seperti shalat malam (tarawih)
sangat dianjurkan di bulan ini. Harapannya, setelah puasa, fungsi shalat
sebagai pencegah dari perbuatan keji dan munkar bisa direalisasikan dalam
kehidupan sehari-hari diluar ramadhan.
Karakteristik ketiga disebut
orang bertaqwa adalah orang yang menafkahkan sebagian rizkinya. Di bulan
ramadhan ini, anjuran untuk zakat, infaq dan shadaqah betul-betul ditekankah.
Dengan menggandakan pahala yang berlipat-lipat, Allah sedang melatih keshalihan
sosial seorang Muslim di bulan ramadhan. Dengan harapan kesadaran sosial
menafkahkan harta untuk membantu fakir miskin terus dijalankan oleh orang Islam
diluar ramadhan.
Keempat, disebut orang bertaqwa kalau seseorang mempercayai
bahwa Allah telah menurunkan kitab suci kepada Muhammad (Al-Quran) dan
kitab-kitab yang turun sebelum Rasul terakhir itu. Nampaknya Allah ingin
melatih orang Islam di bulan ramadhan agar sadar akan adanya tuntunan hidup
menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, yaitu Al-Quran. Membaca dan mempelajari
al Quran sangat ditekankan di bulan ini. Kepercayaan akan adanya kitab sebelum
rasul Muhammad, juga merupakan kepercayaan kepada yang ghaib.
Kelima, ciri orang bertaqwa yang disebut Al Quran adalah orang-orang
yang mempercayai akan adanya hari akhirat. Ini berarti semakin menegaskan
karakter pertama orang disebut taqwa yaitu percaya kepada yang ghaib. Bukankah
kepercayaan adanya hari akhirat dan hari pembalasan juga termasuk kepercayaan
kepada yang ghaib. Dengan keyakinan akan adanya hari akhirat, setiap Muslim
diharapkan mempunyai semangat hidup yang optimis untuk selalu berbuat baik,
dengan harapan memperoleh pula kebaikan ketika hidup kembali setelah kematian.'
Hadirin wal hadirot Jamaah Sholat
Tarawih yang dimulyakan oleh Allah
Lantas apakah hubungan antara puasa
dengan ketaqwaan? Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah dalam
tafsirnya mengatakan, tentang keterkaitan antara puasa dengan ketaqwaan: “Puasa
itu salah satu sebab terbesar menuju ketaqwaan. Karena orang yang berpuasa
telah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Selain itu,
keterkaitan yang lebih luas lagi antara puasa dan ketaqwaan:
- Orang yang berpuasa menjauhkan diri dari yang diharamkan oleh Allah berupa makan, minum jima’ dan semisalnya. Padahal jiwa manusia memiliki kecenderungan kepada semua itu. Ia meninggalkan semua itu demi mendekatkan diri kepada Allah, dan mengharap pahala dari-Nya. Ini semua merupakan bentuk taqwa’
- Orang yang berpuasa melatih dirinya untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan menjauhi hal-hal yang disukai oleh nafsunya, padahal sebetulnya ia mampu untuk makan, minum atau berjima tanpa diketahui orang, namun ia meninggalkannya karena sadar bahwa Allah mengawasinya
- Puasa itu mempersempit gerak setan dalam aliran darah manusia, sehingga pengaruh setan melemah. Akibatnya maksiat dapat dikurangi
- Puasa itu secara umum dapat memperbanyak ketaatan kepada Allah, dan ini merupakan tabiat orang yang bertaqwa
- Dengan puasa, orang kaya merasakan perihnya rasa lapar. Sehingga ia akan lebih peduli kepada orang-orang faqir yang kekurangan. Dan ini juga merupakan tabiat orang yang bertaqwa.
Jamaah sholat tarawih yang
dimulyakan Allah
Oleh karena itu, marilah kita di
bulan Ramadhan ini berusaha untuk menggapai ketaqwaan kepada Allah. Karena
hanya dengan puasa saja tanpa ada usaha kita menuju ke ketaqwaan juga tidak
akan bisa. misalnya kita hanya rajin ibadah hanya di bulan Ramadhan saja.
Setelah keluar bulan Ramadhan ibadah kita kembali seperti semula atau
bolong-bolong.
Semoga puasa kita dapat menjadi saksi dihadapan Allah tentang keimanan kita kepada-Nya. Dan semoga puasa kita mengantarkan kita menuju derajat taqwa, menjadi hamba yang mulia di sisi Allah Ta’ala.
Semoga puasa kita dapat menjadi saksi dihadapan Allah tentang keimanan kita kepada-Nya. Dan semoga puasa kita mengantarkan kita menuju derajat taqwa, menjadi hamba yang mulia di sisi Allah Ta’ala.
Kultum
Tentang Remaja ( Nasihat Untuk Remaja Muslim )
Kami persembahkan nasehat ini untuk
saudara-saudara kami terkhusus para pemuda dan remaja muslim. Mudah-mudahan
nasehat ini dapat membuka mata hati mereka sehingga mereka lebih tahu tentang
siapa dirinya sebenarnya, apa kewajiban yang harus mereka tunaikan sebagai
seorang muslim, agar mereka merasa bahwa masa muda ini tidak sepantasnya untuk
diisi dengan perkara yang bisa melalaikan mereka dari mengingat Allah subhanahu
wata’ala sebagai penciptanya, agar mereka tidak terus-menerus bergelimang ke
dalam kehidupan dunia yang fana dan lupa akan negeri akhirat yang kekal abadi.
Wahai para pemuda muslim, tidakkah
kalian menginginkan kehidupan yang bahagia selamanya? Tidakkah kalian
menginginkan jannah (surga) Allah subhanahu wata’ala yang luasnya seluas langit
dan bumi?
Ketahuilah, jannah Allah subhanahu
wata’ala itu diraih dengan usaha yang sungguh-sungguh dalam beramal. Jannah itu
disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa yang mereka tahu bahwa hidup di dunia
ini hanyalah sementara, mereka merasa bahwa gemerlapnya kehidupan dunia ini
akan menipu umat manusia dan menyeret mereka kepada kehidupan yang sengsara di
negeri akhirat selamanya. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“Kehidupan dunia itu tidak
lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Ali ‘Imran: 185)
Untuk Apa Kita Hidup di Dunia?
Wahai para pemuda, ketahuilah,
sungguh Allah subhanahu wata’ala telah menciptakan kita bukan tanpa adanya
tujuan. Bukan pula memberikan kita kesempatan untuk bersenang-senang saja,
tetapi untuk meraih sebuah tujuan mulia. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin
dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat: 56)
Beribadah kepada Allah subhanahu
wata’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi semua
larangan-Nya. Itulah tugas utama yang harus dijalankan oleh setiap hamba Allah.
Dalam beribadah, kita dituntut untuk
ikhlas dalam menjalankannya. Yaitu dengan beribadah semata-mata hanya
mengharapkan ridha dan pahala dari Allah subhanahu wata’ala. Jangan beribadah
karena terpaksa, atau karena gengsi terhadap orang-orang di sekitar kita.
Apalagi beribadah dalam rangka agar dikatakan bahwa kita adalah orang-orang
yang alim, kita adalah orang-orang shalih atau bentuk pujian dan sanjungan yang
lain.
Umurmu Tidak Akan Lama Lagi
Wahai para pemuda, jangan
sekali-kali terlintas di benak kalian: beribadah nanti saja kalau sudah tua,
atau mumpung masih muda, gunakan untuk foya-foya. Ketahuilah, itu semua
merupakan rayuan setan yang mengajak kita untuk menjadi teman mereka di An Nar
(neraka).
Tahukah kalian, kapan kalian akan
dipanggil oleh Allah subhanahu wata’ala, berapa lama lagi kalian akan hidup di
dunia ini? Jawabannya adalah sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:
“Dan tiada seorangpun yang
dapat mengetahui apa yang akan dilakukannya besok. Dan tiada seorangpun yang
dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui
lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)
Wahai para pemuda, bertaqwalah
kalian kepada Allah subhanahu wata’ala. Mungkin hari ini kalian sedang berada
di tengah-tengah orang-orang yang sedang tertawa, berpesta, dan hura-hura
menyambut tahun baru dengan berbagai bentuk maksiat kepada Allah subhanahu
wata’ala, tetapi keesokan harinya kalian sudah berada di tengah-tengah
orang-orang yang sedang menangis menyaksikan jasad-jasad kalian dimasukkan ke
liang lahad (kubur) yang sempit dan menyesakkan.
Betapa celaka dan ruginya kita,
apabila kita belum sempat beramal shalih. Padahal, pada saat itu amalan diri
kita sajalah yang akan menjadi pendamping kita ketika menghadap Allah subhanahu
wata’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Yang mengiringi jenazah itu
ada tiga: keluarganya, hartanya, dan amalannya. Dua dari tiga hal tersebut akan
kembali dan tinggal satu saja (yang mengiringinya), keluarga dan hartanya akan
kembali, dan tinggal amalannya (yang akan mengiringinya).” (Muttafaqun ‘Alaihi)
Wahai para pemuda, takutlah kalian
kepada adzab Allah subhanahu wata’ala. Sudah siapkah kalian dengan timbangan
amal yang pasti akan kalian hadapi nanti. Sudah cukupkah amal yang kalian
lakukan selama ini untuk menambah berat timbangan amal kebaikan.
Betapa sengsaranya kita, ketika
ternyata bobot timbangan kebaikan kita lebih ringan daripada timbangan
kejelekan. Ingatlah akan firman Allah subhanahu wata’ala:
“Dan adapun orang-orang yang
berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.
Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat
kembalinya adalah neraka Hawiyah. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?
(Yaitu) api yang sangat panas.” (Al Qari’ah: 6-11)
Bersegeralah dalam Beramal
Wahai para pemuda, bersegeralah
untuk beramal kebajikan, dirikanlah shalat dengan sungguh-sungguh, ikhlas dan
sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena shalat adalah
yang pertama kali akan dihisab nanti pada hari kiamat, sebagaimana sabdanya:
“Sesungguhnya amalan yang pertama
kali manusia dihisab dengannya di hari kiamat adalah shalat.” (HR. At Tirmidzi,
An Nasa`i, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad. Lafazh hadits riwayat Abu Dawud no.733)
Bagi laki-laki, hendaknya dengan
berjama’ah di masjid. Banyaklah berdzikir dan mengingat Allah subhanahu
wata’ala. Bacalah Al Qur’an, karena sesungguhnya ia akan memberikan syafaat
bagi pembacanya pada hari kiamat nanti.
Banyaklah bertaubat kepada Allah
subhanahu wata’ala. Betapa banyak dosa dan kemaksiatan yang telah kalian
lakukan selama ini. Mudah-mudahan dengan bertaubat, Allah subhanahu wata’ala
akan mengampuni dosa-dosa kalian dan memberi pahala yang dengannya kalian akan
memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.
Wahai para pemuda, banyak-banyaklah
beramal shalih, pasti Allah subhanahu wata’ala akan memberi kalian kehidupan
yang bahagia, dunia dan akhirat. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“Barangsiapa yang mengerjakan
amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka
sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (An Nahl: 97)
Engkau Habiskan untuk Apa Masa
Mudamu?
Pertanyaan inilah yang akan diajukan
kepada setiap hamba Allah subhanahu wata’ala pada hari kiamat nanti.
Sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam
salah satu haditsnya:
“Tidak akan bergeser kaki anak
Adam (manusia) pada hari kiamat nanti di hadapan Rabbnya sampai ditanya tentang
lima perkara: umurnya untuk apa dihabiskan, masa mudanya untuk apa dihabiskan,
hartanya dari mana dia dapatkan dan dibelanjakan untuk apa harta tersebut, dan
sudahkah beramal terhadap ilmu yang telah ia ketahui.” (HR. At Tirmidzi no.
2340)
Sekarang cobalah mengoreksi diri
kalian sendiri, sudahkah kalian mengisi masa muda kalian untuk hal-hal yang
bermanfaat yang mendatangkan keridhaan Allah subhanahu wata’ala? Ataukah kalian
isi masa muda kalian dengan perbuatan maksiat yang mendatangkan kemurkaan-Nya?
Kalau kalian masih saja mengisi
waktu muda kalian untuk bersenang-senang dan lupa kepada Allah subhanahu
wata’ala, maka jawaban apa yang bisa kalian ucapkan di hadapan Allah subhanahu
wata’ala Sang Penguasa Hari Pembalasan? Tidakkah kalian takut akan ancaman
Allah subhanahu wata’ala terhadap orang yang banyak berbuat dosa dan maksiat?
Padahal Allah subhanahu wata’ala telah mengancam pelaku kejahatan dalam
firman-Nya:
“Barangsiapa yang mengerjakan
kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak
mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.” (An
Nisa’: 123)
Bukanlah masa tua yang akan
ditanyakan oleh Allah subhanahu wata’ala. Oleh karena itu, pergunakanlah
kesempatan di masa muda kalian ini untuk kebaikan.
Ingat-ingatlah selalu bahwa setiap
amal yang kalian lakukan akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah
subhanahu wata’ala.
Jauhi Perbuatan Maksiat
Apa yang menyebabkan Adam dan Hawwa
dikeluarkan dari Al Jannah (surga)? Tidak lain adalah kemaksiatan mereka berdua
kepada Allah subhanahu wata’ala. Mereka melanggar larangan Allah subhanahu
wata’ala karena mendekati sebuah pohon di Al Jannah, mereka terbujuk oleh
rayuan iblis yang mengajak mereka untuk bermaksiat kepada Allah subhanahu
wata’ala.
Wahai para pemuda, senantiasa iblis,
setan, dan bala tentaranya berupaya untuk mengajak umat manusia seluruhnya agar
mereka bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala, mereka mengajak umat manusia
seluruhnya untuk menjadi temannya di neraka. Sebagaimana yang Allah subhanahu
wata’ala jelaskan dalam firman-Nya (yang artinya):
“Sesungguhnya setan itu adalah
musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu
mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.”
(Fathir: 6)
Setiap amalan kejelekan dan maksiat
yang engkau lakukan, walaupun kecil pasti akan dicatat dan diperhitungkan di
sisi Allah subhanahu wata’ala. Pasti engkau akan melihat akibat buruk dari apa yang
telah engkau lakukan itu. Allah subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya):
“Dan barangsiapa yang
mengerjakan kejahatan sekecil apapun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”
(Az Zalzalah:
Setan juga menghendaki dengan
kemaksiatan ini, umat manusia menjadi terpecah belah dan saling bermusuhan.
Jangan dikira bahwa ketika engkau bersama teman-temanmu melakukan kemaksiatan
kepada Allah subhanahu wata’ala, itu merupakan wujud solidaritas dan kekompakan
di antara kalian. Sekali-kali tidak, justru cepat atau lambat, teman yang
engkau cintai menjadi musuh yang paling engkau benci. Allah subhanahu wata’ala
berfirman:
“Sesungguhnya setan itu
bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu karena
(meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan
shalat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan perbuatan itu).” (Al Maidah:
91)
Demikianlah setan menjadikan
perbuatan maksiat yang dilakukan manusia sebagai sarana untuk memecah belah dan
menimbulkan permusuhan di antara mereka.
Ibadah yang Benar Dibangun di atas
Ilmu
Wahai para pemuda, setelah kalian
mengetahui bahwa tugas utama kalian hidup di dunia ini adalah untuk beribadah
kepada Allah subhanahu wata’ala semata, maka sekarang ketahuilah bahwa Allah
subhanahu wata’ala hanya menerima amalan ibadah yang dikerjakan dengan benar.
Untuk itulah wajib atas kalian untuk belajar dan menuntut ilmu agama, mengenal
Allah subhanahu wata’ala, mengenal Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, dan
mengenal agama Islam ini, mengenal mana yang halal dan mana yang haram, mana
yang haq (benar) dan mana yang bathil (salah), serta mana yang sunnah dan mana
yang bid’ah.
Dengan ilmu agama, kalian akan
terbimbing dalam beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala, sehingga ibadah
yang kalian lakukan benar-benar diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala.
Betapa banyak orang yang beramal kebajikan tetapi ternyata amalannya tidak
diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala, karena amalannya tidak dibangun di
atas ilmu agama yang benar.
Oleh karena itu, wahai para pemuda
muslim, pada kesempatan ini, kami juga menasehatkan kepada kalian untuk banyak
mempelajari ilmu agama, duduk di majelis-majelis ilmu, mendengarkan Al Qur’an
dan hadits serta nasehat dan penjelasan para ulama. Jangan sibukkan diri kalian
dengan hal-hal yang kurang bermanfaat bagi diri kalian, terlebih lagi hal-hal
yang mendatangkan murka Allah subhanahu wata’ala.
Ketahuilah, menuntut ilmu agama
merupakan kewajiban bagi setiap muslim, maka barangsiapa yang meninggalkannya dia
akan mendapatkan dosa, dan setiap dosa pasti akan menyebabkan kecelakaan bagi
pelakunya.
“Menuntut ilmu agama itu
merupakan kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah no.224)
Akhir Kata
Semoga nasehat yang sedikit ini bisa
memberikan manfaat yang banyak kepada kita semua. Sesungguhnya nasehat itu
merupakan perkara yang sangat penting dalam agama ini, bahkan saling memberikan
nasehat merupakan salah satu sifat orang-orang yang dijauhkan dari kerugian,
sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala firmankan dalam surat Al ‘Ashr:
“Demi masa. Sesungguhnya
manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal shalih dan nasehat- menasehati dalam kebenaran dan
nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3)
Wallahu ta‘ala a’lam bishshowab.
Kultum
yang bertema ahlaq terpuji
KEUTAMAAN
ORANG JUJUR
Ciri utama seorang muslim
adalah jujur. Bukanlah dikatakan muslim sejati jika seorang masih berbohong dan
menipu. Rasulullah saw dalam kehidupannya sehari – hari dikenal sebagai orang
yang dapat dipercaya. Karena itu jujur merupakan akhlak yang sangat baik dan
indah menurut pandangan Allah.
Sesungguhnya jika kita hidup di
dunia ini memelihara kejujuran, maka kedamaian akan dapat dirasakan oleh umat
manusia. Orang – orang yang selalu bersikap jujur dalam setiap tindakan dan
ucapan, maka ia termasuk golongan yang beruntung. Artinya, ia beruntung di
dunia dan beruntung di akhirat.
Kita semua tentu sangat setuju bahwa
jujur merupakan budi pekerti yang mulia. Kejujuran dapat membimbing manusia
menuju kebaikan. Apabila seseorang telah jujur dan mampu menempatkan suatu
kebaikan, maka ia terbimbing menuju ke surgabukankah Rasulullah swa telah
bersabda: “Sesungguhnya kejujuran membimbing kea rah kebaikan. Dan kebaikan
itu membimbingnya ke surge. Sesorang yang jujur, maka hingga di sisi Allah ia
akan menjadi orang yang jujur dan benar. Sedangkan sifat dusta membimbing orang
pada kejahatan. Lalu kejahatan itu menyeret ke neraka. Sesorang yang biasa berdusta,
maka hingga di sisi Allah kelak tetap menjadi pendusta”. (HR Bukhari
Muslim)
Orang yang suka berterus terang dan
jujur dalam segala hal kehidupan ini, maka ia termasuk memiliki sifat kenabian.
Sebab tentu saja orang – orang yang jujur ini suka sekali dengan kebenaran.
Karena sukanya. Maka ia selalu memelihara akhlaknya diri dari dusta. Karena itu
ia cenderung untuk melakukan kebaikan dan menegakkan kebenaran agama.
Allah berfirman : Dan sebutkanlah
dalam Al Kitab tentang Ibrahim, bahwa ia adalah seseorang yang benar dan jujur,
lagi pula seorang nabi. (Q. S. Maryam ayat 41).
Kejujuran itu dekat dengan
kebenaran. Kebenaran adalah sesuatu yang disenangi Allah. Jika Allah senang,
maka pastilah dia akan mengasihi. Dan hambaNya yang jujur, maka kelak di hari kiamat
akan disediakan tempat yang menyenangkan yaitu surga.
PENUTUP KULTUM
Demikianlah kultum yang dapat saya
sampaikan semoga bermanfaat bagi hadirin semua, jika ada kekuragan saya mohon
maaf.
Pilih kalimat penutupnya
- Taqabbalallaahu minna waminkum taqabbal yaa kariimu, wassalaamu' alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Artinya: "Semoga Allah menerima (apa-apa) yang
datangnya dari kami dan dari kalian semua. Engkaulah yang menerima wahai dzat
yang Maha Mulia. Dan semoga keselamatan, kesejahteraan, dan keberkahan tetap
tercurahkan kepada kita semua"
- Ihdinash shiraathal mustaqiim, akhiirul kalaami wassalaamu' alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh.
Artinya: "Semoga memberikan petunjuk kepada kami jalan
yang lurus (yakni agama islam). Sampai disini pembicaraan kami. Dan semoga
keselamatan, kesejahteraan, dan keberkahan tetap tercurahkan kepada kita
semua."
- Wal'afwu minkum wassalaamu' alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh.
Artinya: "Mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada
kalian semua. Dan semoga keselamatan, kesejahteraan, dan keberkahan tetap
tercurahkan kepada kita semua".
Mungkin itu saja bahasan kita kali ini tentang
kultum / ceramah, semoga bermanfaat dan kunjungi terus Blog saya yah..
0 Response to "KUMPULAN KULTUM DAN CERAMAH TERBAIK LENGKAP"
Post a Comment